Thursday, October 3, 2013

PENDIDIKAN II




Tulisan ini berfokus pada sistem pendidikan di Indonesia. Ketika saya masih duduk di bangku sekolah, para guru sering kali menyatakan betapa majunya pendidikan Indonesia tempo dulu dalam lingkup asia tenggara. Itu terlihat dengan banyaknya warga Malaysia yang dating dan menuntut ilmu ke Indonesia. Dan menjadi hal yang kontradiktif jika kita membandingkan dengan situasi saat sekarang. Yang terjadi sekarang justru sebaliknya, kita malah menuntut imu ke negeri jiran tersebut.
Pertanyaan yang mengemuka adalah, apa yang terjadi dengan pendidikan di Indonesia? Apakah mutu pendidikan kita hanya jalan ditempat atau malah mengalami kemunduran? Saat ini bahkan disebutkan, mutu pendidikan di Indonesia berada di bawah Vietnam, yang beberapa decade lalu masih dilanda perang saudara.
Mungkin yang dapat saya katakan sebagai orang awam pendidikan adalah, terjadi kesalahan pada sistem itu sendiri.  Sistem  dan kurikulum yang selalu berubah-ubah, yang harapannya agar lebih majunya pendidikan di Indonesia. Tapi fakta dilapangan, perubahan yang terjadi malah semakin tidak memperjelas arah dan tujuan pendidikan itu sendiri.
Setahu saya, tujuan pendidikan itu sendiri adalah membentuk generasi muda yang kreatif, kompeten, berintegritas dan mampu bersaing ketika terjun kemasyarakat. Dimana komponen penting sehingga tercapainya hal itu adalah menyelaraskan otak kiri dan otak kanan.
Dan itu tidak terlihat ketika saya memperhatikan pola pendidikan salah satu SMA Unggulan di Sumatera Barat, yaitu SMAN 1 Padangpanjang (almamater saya). Dengan predikat salah satu sekolah unggulan, yang tampak hanya usaha sekolah untuk menaikkan reputasi  sekolah dengan “memfokuskan” siswanya untuk memperoleh nilai terbaik. Jika memang demikian, berarti sebagai sekolah unggulan yang menjadi acuan bagi sekolah lainnya, SMAN 1 Padangpanjang hanya mengasah kemampuan otak kiri siswa dengan sedikit mengabaikan pendidikan otak kanan.
Hal itu terlihat dengan semakin tidak berkembangnya kegiatan ekstrakurikuler yang sejatinya merupakan tempat bagi siswa untuk mengasah kemampuan otak kanannya. Kegiatan ekstrakurikuler yang biasanya bias dilakukan kapan saja, sekarang hanya difokuskan pada hari jumat, setelah shalat jumat. Hal ini menyebabkan hampir semua kegiatan ekstrakurikuler ketika saya masih sekolah, menjadi mati suri. Sebagai perbandingan, ketika masih sekolah, setiap ekskul tersebut memiliki kepengurusan dan sistem regenerasi anggota yang jelas, sehingga siswa memiliki ruang untuk belajar tentang organisasi, dan menyalurkan kreatifitasnya masing-masing. Dan yang paling terbaru, pihak sekolah meniadakan pagelaran seni yang biasanya diadakan setiap tahun, dimana mungkin pagelaran itu bisa menjadi suatu bentuk penyegaran bagi siswa yang lelah dengan rutinitas belajar setiap harinya.
Jika kita mencontoh sistem pendidikan di sekolah-sekolah jepang, selain sekolah menuntut agar siswa memperoleh nilai yang memuaskan, pihak sekolah sendiri mendukung setiap kegiatan siswa asalkan kegiatan itu mengandung hal-hal yang positif. Para guru di sekolah-sekolah di jepang, ikut serta menyukseskan setiap kegiatan positif yang diadakan siswanya.
Saya tidak tahu apa yang ada dalam pikiran para guru almamater saya, apakan para guru begitu mengharapkan prestise dengan siswanya mendapatkan nilai yang tinggi dan mengabaikan para siswa yang sebenarnya tertekan dengan tuntutan tersebut. Pendidikan sekolah tidak hanya selalu berkaitan dengan nilai tinggi yang diperoleh, tetapi bagaimana menerapkan ilmu tersebut, dan menjadi pribadi yang lebih baik.
Dijelaskan bahwa saat ini dikembangkan pendidikan berkarakter, dimana dalam konteks sekarang sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang sedang melanda di negara kita. Krisis tersebut antara lain berupa meningkatnya pergaulan bebas, maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja, kejahatan terhadap teman, pencurian remaja, kebiasaan menyontek, penyalahgunaan obat-obatan, pornografi, dan perusakan milik orang lain sudah menjadi masalah sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara tuntas.
Para ahli pendidikan di Indonesia tentu telah merumuskan matang-matang, sehingga nantinya peserta didik memiliki karakter, sikap moral dan konsep moralyang diharapkan. Dan saya juga amat mendukung hal itu melihat degradasi moral para ramaja saat sekarang.

No comments:

Post a Comment