Tulisan ini
berfokus pada sistem pendidikan di Indonesia. Ketika saya masih duduk di bangku
sekolah, para guru sering kali menyatakan betapa majunya pendidikan Indonesia
tempo dulu dalam lingkup asia tenggara. Itu terlihat dengan banyaknya warga
Malaysia yang dating dan menuntut ilmu ke Indonesia. Dan menjadi hal yang
kontradiktif jika kita membandingkan dengan situasi saat sekarang. Yang terjadi
sekarang justru sebaliknya, kita malah menuntut imu ke negeri jiran tersebut.
Pertanyaan yang
mengemuka adalah, apa yang terjadi dengan pendidikan di Indonesia? Apakah mutu
pendidikan kita hanya jalan ditempat atau malah mengalami kemunduran? Saat ini
bahkan disebutkan, mutu pendidikan di Indonesia berada di bawah Vietnam, yang
beberapa decade lalu masih dilanda perang saudara.
Mungkin yang
dapat saya katakan sebagai orang awam pendidikan adalah, terjadi kesalahan pada
sistem itu sendiri. Sistem dan kurikulum yang selalu berubah-ubah, yang
harapannya agar lebih majunya pendidikan di Indonesia. Tapi fakta dilapangan,
perubahan yang terjadi malah semakin tidak memperjelas arah dan tujuan
pendidikan itu sendiri.
Setahu saya,
tujuan pendidikan itu sendiri adalah membentuk generasi muda yang kreatif,
kompeten, berintegritas dan mampu bersaing ketika terjun kemasyarakat. Dimana komponen
penting sehingga tercapainya hal itu adalah menyelaraskan otak kiri dan otak
kanan.
Dan itu tidak
terlihat ketika saya memperhatikan pola pendidikan salah satu SMA Unggulan di
Sumatera Barat, yaitu SMAN 1 Padangpanjang (almamater saya). Dengan predikat
salah satu sekolah unggulan, yang tampak hanya usaha sekolah untuk menaikkan
reputasi sekolah dengan “memfokuskan”
siswanya untuk memperoleh nilai terbaik. Jika memang demikian, berarti sebagai
sekolah unggulan yang menjadi acuan bagi sekolah lainnya, SMAN 1 Padangpanjang
hanya mengasah kemampuan otak kiri siswa dengan sedikit mengabaikan pendidikan otak
kanan.
Hal itu terlihat
dengan semakin tidak berkembangnya kegiatan ekstrakurikuler yang sejatinya
merupakan tempat bagi siswa untuk mengasah kemampuan otak kanannya. Kegiatan ekstrakurikuler
yang biasanya bias dilakukan kapan saja, sekarang hanya difokuskan pada hari
jumat, setelah shalat jumat. Hal ini menyebabkan hampir semua kegiatan
ekstrakurikuler ketika saya masih sekolah, menjadi mati suri. Sebagai perbandingan,
ketika masih sekolah, setiap ekskul tersebut memiliki kepengurusan dan sistem
regenerasi anggota yang jelas, sehingga siswa memiliki ruang untuk belajar
tentang organisasi, dan menyalurkan kreatifitasnya masing-masing. Dan yang
paling terbaru, pihak sekolah meniadakan pagelaran seni yang biasanya diadakan setiap
tahun, dimana mungkin pagelaran itu bisa menjadi suatu bentuk penyegaran bagi
siswa yang lelah dengan rutinitas belajar setiap harinya.
Jika kita
mencontoh sistem pendidikan di sekolah-sekolah jepang, selain sekolah menuntut
agar siswa memperoleh nilai yang memuaskan, pihak sekolah sendiri mendukung setiap
kegiatan siswa asalkan kegiatan itu mengandung hal-hal yang positif. Para guru
di sekolah-sekolah di jepang, ikut serta menyukseskan setiap kegiatan positif
yang diadakan siswanya.
Saya tidak tahu
apa yang ada dalam pikiran para guru almamater saya, apakan para guru begitu
mengharapkan prestise dengan siswanya mendapatkan nilai yang tinggi dan mengabaikan
para siswa yang sebenarnya tertekan dengan tuntutan tersebut. Pendidikan sekolah
tidak hanya selalu berkaitan dengan nilai tinggi yang diperoleh, tetapi
bagaimana menerapkan ilmu tersebut, dan menjadi pribadi yang lebih baik.
Dijelaskan bahwa
saat ini dikembangkan pendidikan berkarakter, dimana dalam konteks sekarang sangat relevan untuk mengatasi krisis
moral yang sedang melanda di negara kita. Krisis tersebut antara lain berupa
meningkatnya pergaulan bebas, maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja,
kejahatan terhadap teman, pencurian remaja, kebiasaan menyontek, penyalahgunaan
obat-obatan, pornografi, dan perusakan milik orang lain sudah menjadi masalah
sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara tuntas.
Para ahli pendidikan di Indonesia tentu
telah merumuskan matang-matang, sehingga nantinya peserta didik memiliki
karakter, sikap moral dan konsep moralyang diharapkan. Dan saya juga amat
mendukung hal itu melihat degradasi moral para ramaja saat sekarang.
No comments:
Post a Comment