Saturday, September 7, 2013

INDONESIA

Indonesia, negara dengan sumber daya alam yang begitu melimpah. Tanah yang begitu subur sampai-sampai para orang tua dahulu berkata, apapun yang dilempar ke tanah, bakal tumbuh. Hutan yang luas, cadangan sumber daya yang berlimpah dalam perut bumi, laut yang kaya akan keaneka ragaman hayatinya. bahkan dalam satu blog yang saya baca, negara terkaya di dunia adalah Indonesia, jika dilihat dari potensi yang terkandung didalamnya.

Kemudian kita akan menjadi tertegun jika kita melihat keadaan sekarang. Mungkin saat ini pemerintah berbangga hati karena Indonesia telah menjadi salah satu kekuatan ekonomi yang cukup besar di dunia, dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. 

Jika kita lihat data ekspor-impor indonesia sampai juni 2013, dimana  ekspor Indonesia mencapai USD 91 juta, sedangkan impor mencapaiUSD 94,4 juta. kita dapat mengetahui kalau Indonesia lebih banyak melakukan impor barang dari pada melakukan impor itu sendiri.

Apa yang salah dengan negara kita?
Entahlah.

Tapi, jika kita melihat kembali disekitar, banyak sumber daya kita yang tidak kita sendiri yang mengolahnya, seperti minyak bumi yang diolah caltex, atau yang paliang waahhh , yaitu tambang emas freeport.

Pertambangan ini konon telah menghasilkan 7,3 Juta Ton tembaga dan 724,7 Juta Ton emas.  Coba kita uangkan jumlah tersebut dengan harga emas sekarang, anggap saja Rp.300.000,-/Gram. Sehingga 724,7 Juta Ton emas = 724.700.000.000.000 Gram x Rp 300.000. = 217.410.000.000.000.000.000 Rupiah!!!!!  ada yang bisa   baca nilai tersebut?.  Coba bandingkan dengan kegundahan Hatta Rajasa ketika subsidi BBM “baru” mencapai angka Rp, 300.000.000.000.000,-  atau terbilang 300 Triliun rupiah.

Harap dicatat, itu hanya untuk emas belum lagi tembaga serta bahan mineral lainnya. Namun alangkah malangnya bukan kita yang mengelola pertambangan ini melainkan AMERIKA.  Sebenarnya boleh saja negara lain mengelola kekayaan di negeri ini karena alasan teknologi yang belum dimiliki Indonesia.  Namun jika sistim bagi hasil dengan prosentasenya adalah 1% untuk negeri pemilik tanah dan 99% untuk Amerika sebagai pihak yang mengelolanya sungguh CILOKO.  Bahkan ketika emas dan tembaga disana mulai menipis ternyata dibawah lapisan emas dan tembaga tepatnya di kedalaman400 meter ditemukan kandungan mineral yang harganya 100 kali lebih mahal dari pada emas, yaitu URANIUM.  Bahan baku pembuatan nuklir itu melimpah ditemukan disana.  Belum jelas jumlah kandungan uranium yang ditemukan disana, tapi kabar terakhir yang beredar menurut para ahli, konon kandungan uranium di sana cukup untuk membuat pembangkit listrik tenaga nuklir dengan kapasitas yang dapat menerangi seluruh BUMI!!

Nahh, disini dapat kita simpulkan, alangkah kayanya kita. dan alangkah bodohnya kita karena ketidakmampuan kita untuk mengeksplorasi dan mengeksploitai kekayaan kita untuk kita sendiri.

PENDIDIKAN I

Saat sekarang pendidikan sudah bisa dikatakan menjadi kebutuhan primer manusia. seiring berjalannya waktu, pendidikan telah menjadi hal yang tak kalah penting daripada kebtuhan primer yang sebenarnya, yaitu sandang, pangan dan papan. Karena setiap orang berekspektasi bahwa dengan semakin baiknya pendidikan, berbanding lurus dengan imbas pada semakin layaknya penghidupan yang akan diperoleh.

Akan tetapi sebagaimana yang juga kita ketahui, pendidikan juga berbanding lurus dengan besarnya biaya yang dikeluarkan. Semakin tinggi atau semakin bagus kualitas oendidikan yang kita inginkan, akan semakin memerlukan biaya yang besar pula. Setiap orang tahu akan hal itu, dan bahkan telah menjadi pameo dalam masyarakat. "Pendidikan itu mahal".

Akan tetapi, semua itu menjadi hal yang kontradiktif jika kita menghubungkan mahalnya biaya pendidikan saat ini dengan apa yang diperoleh peserta didik, mahasiswa maupun siswa apapun itu bentuknya.

Sebagai perbandingan, ketika saya masih kuliah di Universitas Andalas Padang, uang kuliah + biaya transportasi (walaupus saya tidak menggunakan bus kampus) sebesar Rp. 525.000,-, tahun masuk 2006. Kemudian terjadi peningkatan biaya kuliah hampir setiap tahun sampai yang terakhir yang saya tahu angkatan 2011, dengan uang kuliah yang hampir 2 kali lipatdari uang kuliah saya.

Yang membuat kita miris adalah dengan semakin mahalnya biaya unuk kuliah, tidak dibarengi dengan fasilitas yang didapat oleh mahasiswa. 2006 sampai 2011, fasilitas yang saya lihat dan saya peroleh sama. Kalaupun ada perubahan, itupun tidak terlalu signifikan, bahkan malah mempersulit mahasiswa.

Sebagai contoh, awal kuliah saya masih diharuska mengisi kartu rencana studi (KRS) saya secara manual, dan perubahan yang signifikannya terjadi ketika pengisian KRS telah dapat dilakukan secara online. akan tetapi permasalahan baru timbul, karena pengisian KRS online selalu bermasalah setiap semesternya, entah itu jadwal yang bentrok, atau kelas penuh, atau yang paling parah, KRS online tidak bisa diisi. Hal yang tidak pernah terjadi ketika masih menggunakan metode manual.

Sulitnya dalam mengurus urusan administrasi kampus juga menjadi kedala tersendiri bagi para mahasiswa. Entah itu dalam mengurus nilai, pengerjaan skripsi, legalisir ijazah, dan sebagainya. Terjadi kesan negatif dimana para mahasiswa harus "takut" kepada pihak-pihak yang terkait, karena akan berimbas semakin sulitnya dalam pengurusan hal-hal tersebut jika terlalu banyak kompein terhadap pelayanan kampus.

Saya tidak bisa memastikan apakan hal ini terjadi karena human error atau apapun itu penyebabnya, tetapi tentu akan  lebih baik rasanya jika peningkatan biaya pendidikan juga diiringi dengan fasilitas pendukung. Dengan harapan nantinya para peserta didik hanya perlu menfokuskan diri pada kewajibannya untuk menuntut ilmu, tanpa harus memikirkan persoalan remeh lainnya.

Saat sekarang, diterapakan apa yang disebut pambayaran uang kuliah tunggal, dimana pembayaran didasarkan pada kemampuan ekonomi orang tua peserta didik. Jadi, semakin besar pendapatan orang tua, juga akan semakin besar biaya yang akan dikeluarkan. Untuk hal ini saya masih belum mendapatkan gambaran pasti, apakah fasilitas yang diterima juga akan berbanding lurus dengan besarnya uang kuliah, atau akan memperoleh fasilitas yang sama dan adil?.

Tentunya dengan aspek positif dari uang kuliah tunggal ini, dimana pembayaran benar-benar sesuai kemampuan orang tua mahasiswa, kita tentu tetap berharap akan meningkatnya fasilitas yang diperoleh mahasiswa itu sendiri.