Saat sekarang pendidikan sudah bisa dikatakan menjadi kebutuhan primer manusia. seiring berjalannya waktu, pendidikan telah menjadi hal yang tak kalah penting daripada kebtuhan primer yang sebenarnya, yaitu sandang, pangan dan papan. Karena setiap orang berekspektasi bahwa dengan semakin baiknya pendidikan, berbanding lurus dengan imbas pada semakin layaknya penghidupan yang akan diperoleh.
Akan tetapi sebagaimana yang juga kita ketahui, pendidikan juga berbanding lurus dengan besarnya biaya yang dikeluarkan. Semakin tinggi atau semakin bagus kualitas oendidikan yang kita inginkan, akan semakin memerlukan biaya yang besar pula. Setiap orang tahu akan hal itu, dan bahkan telah menjadi pameo dalam masyarakat. "Pendidikan itu mahal".
Akan tetapi, semua itu menjadi hal yang kontradiktif jika kita menghubungkan mahalnya biaya pendidikan saat ini dengan apa yang diperoleh peserta didik, mahasiswa maupun siswa apapun itu bentuknya.
Sebagai perbandingan, ketika saya masih kuliah di Universitas Andalas Padang, uang kuliah + biaya transportasi (walaupus saya tidak menggunakan bus kampus) sebesar Rp. 525.000,-, tahun masuk 2006. Kemudian terjadi peningkatan biaya kuliah hampir setiap tahun sampai yang terakhir yang saya tahu angkatan 2011, dengan uang kuliah yang hampir 2 kali lipatdari uang kuliah saya.
Yang membuat kita miris adalah dengan semakin mahalnya biaya unuk kuliah, tidak dibarengi dengan fasilitas yang didapat oleh mahasiswa. 2006 sampai 2011, fasilitas yang saya lihat dan saya peroleh sama. Kalaupun ada perubahan, itupun tidak terlalu signifikan, bahkan malah mempersulit mahasiswa.
Sebagai contoh, awal kuliah saya masih diharuska mengisi kartu rencana studi (KRS) saya secara manual, dan perubahan yang signifikannya terjadi ketika pengisian KRS telah dapat dilakukan secara online. akan tetapi permasalahan baru timbul, karena pengisian KRS online selalu bermasalah setiap semesternya, entah itu jadwal yang bentrok, atau kelas penuh, atau yang paling parah, KRS online tidak bisa diisi. Hal yang tidak pernah terjadi ketika masih menggunakan metode manual.
Sulitnya dalam mengurus urusan administrasi kampus juga menjadi kedala tersendiri bagi para mahasiswa. Entah itu dalam mengurus nilai, pengerjaan skripsi, legalisir ijazah, dan sebagainya. Terjadi kesan negatif dimana para mahasiswa harus "takut" kepada pihak-pihak yang terkait, karena akan berimbas semakin sulitnya dalam pengurusan hal-hal tersebut jika terlalu banyak kompein terhadap pelayanan kampus.
Saya tidak bisa memastikan apakan hal ini terjadi karena human error atau apapun itu penyebabnya, tetapi tentu akan lebih baik rasanya jika peningkatan biaya pendidikan juga diiringi dengan fasilitas pendukung. Dengan harapan nantinya para peserta didik hanya perlu menfokuskan diri pada kewajibannya untuk menuntut ilmu, tanpa harus memikirkan persoalan remeh lainnya.
Saat sekarang, diterapakan apa yang disebut pambayaran uang kuliah tunggal, dimana pembayaran didasarkan pada kemampuan ekonomi orang tua peserta didik. Jadi, semakin besar pendapatan orang tua, juga akan semakin besar biaya yang akan dikeluarkan. Untuk hal ini saya masih belum mendapatkan gambaran pasti, apakah fasilitas yang diterima juga akan berbanding lurus dengan besarnya uang kuliah, atau akan memperoleh fasilitas yang sama dan adil?.
Tentunya dengan aspek positif dari uang kuliah tunggal ini, dimana pembayaran benar-benar sesuai kemampuan orang tua mahasiswa, kita tentu tetap berharap akan meningkatnya fasilitas yang diperoleh mahasiswa itu sendiri.
No comments:
Post a Comment